,

Diari eksima eczema dermatitis, kulit kering, bersisik, dan penuh luka-luka

Saya ingin menceritakan pengalaman hidup saya, sebagai penderita eksima. Dari awal kenangan saya di masa sekolah, dimana penyakit itu bermulai, sampai dengan saat ini.

Ketika saya SD, kulit saya masih cukup sehat, hanya saja, saya sering kali mencuci tangan, dengan sabun pencuci piring, dan kulit saya tangan saya menjadi semakin kering. sering timbul gelembung kulit mati, di jari-jari tangan saya, yang kemudian area keringnya membesar, dan membuat kulit tangan saya seakan berganti kulit.

waktu itu saya mengira tangan saya menjadi kering, karena saya sering menangkap kupu-kupu dengan tangan kosong. waktu kecil saya hobi sekali menangkap kupu-kupu. Namun tidak ada yang tahu pasti, bisa jadi, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun pencuci piring yang mengandung zat diterjen, adalah salah satu pemicu nya.

ketika saya memasuki masa SMP, kulit tangan saya semakin hancur, kulit di seluruh telapak tangan saya mengering, dan mengelupas, sampai dengan beberapa jari tangan saya, sangat kering dan mengelupas, dipersendian jari, kulit saya seperti sobek, panjang sobekannya beragam, mulai dari 1-2cm, sampai ada yang 3-4cm. Karena kulit saya seperti pecah, dan sobek-sobek karena sangat kering dan iritasi. Saya sampai tidak mampu meluruskan jari-jari tangan saya tanpa merasakan rasa sakit dari kulit yang robek.

hingga saya selalu terlihat mengepalkan tangan saya selama saya di sekolah, masa-masa itu terasa sangat menyedihkan.  Dengan tangan kering , mengelupas dan penuh luka, dari ujung jari-jari sampai dengan kepalan tangan, melakukan hal-hal sederhana, seperti menggengam barang menjadi hal yang menyulitkan, mengikat tali sepatu, dengan tangan dan jari yang kaku karena kulit kering dan penuh luka, terasa menyulitkan, sehingga saya kadang membiarkan tali sepatu, ketika talinya lepas. Kegiatan olahraga, seperti bermain basket, dan voli, kemudian mendrible bola basket terasa sangat menyakitkan, karena membuat kulit kering saya terbentur bola, dan memaksakan jari untuk membuka. Bermain voli, dan memukul bola dengan telapak tangan juga terasa menyakitkan, saat saya servis atau memukul bola voli yang keras, saya bisa merasakan luka-luka dijari saya membuka dan membesar.

Belum lagi kotoran , tanah dan debu di bola tersebut, menempel di kulit kering tangan, dan jari, serta menyelip diantara luka-luka dijari. Kulit tangan yang kering dan penuh luka, juga menyusahkan saya dalam mencuci tangan. Saya harus mengunjungi dokter kulit secara berkala, dan memakai beraneka obat untuk dioleskan. Dan penjelasan dokter bahwa penyakit saya tidak akan pernah benar-benar sembuh, dan sewaktu-waktu akan kambuh , membuat saya merasa sangat sedih, rasanya seperti menjadi orang cacat. Kulit yang merupakan salah satu indra penting, yaitu indra peraba saya mengalami disfungsional. Jangankan meraba dan merasakan tekstur benda-benda, membuka kepalan tangan saya dan meluruskan jari saja sudah sangat menyakitkan. Tangan saya seperti berasal dari film horror. Dokter tidak menyarankan saya untuk terlalu sering mencuci tangan, dan jangan sampai tangan saya terlalu lama lembab. Jangan sampai terkena zat diterjen, sabun cuci tangan umumnya masih memiliki zat diterjen , sabun mandi hanya boleh menggunakan yang berbentuk batangan, dan dari merek tertentu yang lembut untuk kulit.

Mencuci tangan , rasanya terkadang cukup menyakitkan, karena saya harus mencuci luka-luka ditangan saya. Jika saya tidak mencuci tangan rasanya tidak higienis. Mandi dan mencuci rambut, menjadi perjuangan untuk saya, karena ada bagian dari sabun batangan yang saya pegang , terselip diantara kulit tangan saya yang berisisik , dan juga terselip diantara luka-luka dijari saya.

Mencuci rambut, juga menjadi kegiatan yang tidak menyenangkan, karena saya harus mengosokan jari-jari dan kepalan tangan penuh luka saya, ke rambut, secara berulang-ulang.

Hal ini tidak berhenti sampai situ, karena eksima itu sempat menyebar, ke lipatan tangan kanan saya, rasanya panas dan gatal, kemudian kulit saya pecah, dan mulai berdarah. Saya kesulitan meluruskan tangan kanan saya. Dan puncaknya, eksima menyerang kedua lipatan kaki saya.

Berdiri dengan kedua kaki lurus, menjadi hal yang menyakitkan, lipatan di lutut saya penuh dengan luka kering dan koreng, rasanya sangat gatal dan menyiksa, dan karena luka itu dilipatan kulit, melurus kaki membuat lukanya terbuka, lukanya bisa mencapai sekitar 5cm. Saya sangat menyukai kegiatan olah raga, dan memiliki alergi fisik seperti ini , membuat kegiatan saya sangat terbatas. Saya sangat malu ketika harus memakai celana pendek, ketika pelajaran olah raga. Saya malu dilihat dengan kaki penuh luka, tidak seperti tangan yang bisa saya kepalkan , luka dilutut saya tidak dapat ditutupi. Untungnya rok sekolah saya lebih dari lutut.

Satu hal yang saya ingat, mama saya rajin mengantarkan saya ke dokter kulit, dan walau mahal, mama papa saya tidak pernah mengeluh mengenai biayanya. Mama saya juga tidak pernah menyindir, ataupun mengatakan sesuatu mengenai alergi saya itu. Itu adalah sesuatu yang saya syukuri, karena diusia seperti itu, dengan kondisi seperti itu, rasa percaya diri saya juga jadi ikut terluka. Saya bahkan tidak bisa bersalaman dengan seseorang, tanpa perasaan tidak nyaman, karena tangan saya kasar, bersisik, penuh luka. Menjabat tangan dengan orang dengan kuat, adalah hal yang tidak pernah saya lakukan, saat penyakit eksima saya kambuh. Dan penyakit itu , dan kondisi kulit tangan itu, berlangsung selama bertahun-tahun. Selama masa smp, dan sma.

Saya tidak bisa memakai rok dan celana pendek seperti gadis-gadis lain. Yang saya rasakan dan pikirkan, saya orang yang mengalami cacat kulit. Dan orang lain akan sulit menerima dan mencintai orang yang cacat kulit seperti saya. Tangan saya sangat menjijikan.

Selain bentuknya , rasa gatal ketika penyakit itu kambuh, saya bisa melihat bulir2 cairan dr dalam kulit saya, naik ke permukaan kulit, dan bulir itu terasa panas dan gatal, hinga akhirnya bulir itu pecah, dan mengeluarkan cairan bening, dan kulit saya menjadi mengering. Ketika semakin parah, kulit kering itu menyebar, seluruh jari dan telapak tangan , kiri dan kanan dilapisi lapisan kulit kering, kemudian pecah menjadi luka.

Selain pengobatan lotion, ketika kondisi sangat parah, saya meminum obat, dan pernah juga disuntikan cairan untuk menyeimbangkan hormon saya, suntikan itu diberikan di daerah pantat. Penyebab asli dari eksim, tidak pernah benar-benar diketahui, katanya bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Yang jelas , stress bisa memperburuk keadaan. Jadi saat saya kurag sehat, dan frustrasi terhadap suatu masalah, eksima akan datang dan menambah masalah saya.

Seperti yang saya katakan saya sangat menyukai olahraga, saya suka berenang (walau tidak lancar) dan ketika saya mengalami eksima, saya tidak disarankan untuk berenang, krn kotoran dari air kolam bisa memperburuk kondisi kulit saya. Dan lagi, bagaimana mungkin saya percaya diri untuk memakai baju berenang, dengan kaki penuh koreng dan luka karena gatal.

Selain hobi berenang , saya mengikuti perkumpulan pencak silat, dan saya tidak bisa menjelaskan kepada pengajar, dan teman-teman seperguruan, saya tidak bisa melakukan beberapa gerakan, karena kulit tangan saya yang pecah-pecah, dan kaki saya juga luka-luka. Saya tidak dapat melakukan kegiatan dengan maksimal, pada saat eksima saya kambuh dan kondisinya terlalu parah.

Itulah kira-kira kisah saya, sebagai penderita eksima, berusaha melalui masa-masa smp dan sma saya. Ada satu teman sebangku saya, menanyakan tentang kondisi tangan saya, dan mengapa saya sll mengepalkan tangan. Dan bertanya bisakan saya meluruskan jari saya.  Ada beberapa orang yang dengan wajah ketakutan menanyakan apakah penyakit kulit saya menular, dan saya harus menjelaskan bahwa penyakit saya tidak bisa disembuhkan secara permanen, tapi tidak menular.Untungnya saya masih memiliki teman-teman baik dimasa smp dan sma, dengan kondisi saya yang seperti itu. Akhirnya saya masih berteman baik dengan mereka sampai dengan saat ini, mereka yang mau mengengam tangan saya, ketika tangan saya bentuknya sangat mengerikan, dan kasar, saya menemukan teman yang mau mengengam tangan saya yang penuh luka dan menjadi teman saya hingga saat ini. Kini kondisi saya membaik dengan sendirinya sekitar masa kuliah. Tangan saya tidak lagi berdarah-darah, lipatan tangan kanan, dan di lipatan kaki, eksima saya hilang sepenuhnya. Bagaimana bisa? Saya tidak tahu.

Eksima tidak pernah lagi kambuh ditempat2 selain telapak tangan. Telapak tangan kiri saya sudah sembuh sepenuhnya, hanya telapak tangan kanan yang tampak seperti tangan nenek tua, yang kering da keriput. Tapi satu hal yang saya tahu, walau indra peraba saya kadang tergangu, tapi saya menemukan orang-orang yang bisa menerima saya, dengan kondisi saya yang seperti itu.

Walau sampai sekarang setiap saya pergi keluar negri, di bagian check imigrasi, saya sering kali harus di check berulang-ulang, karena eksima membuat sidik jari saya susah dibaca dengan mesin. Membuat pasport menjadi perjuangan menyulitkan, untuk mendapatkan minimum 6 jari yg bisa di deteksi dengan alat, memakan waktu 30 menit lebih, berulang-ulang, harus dicoba, karena kerut-kerut dijari saya menggangu deteksi sidik jari saya.

Tapi saya bersyukur, entah bagaimana, kondisi saya sudah membaik sekarang. Dan saya bisa menjabat tangan orang yang saya temui, dengan erat. Karena luka-luka itu sudah tidak ada.

Beauty is SuperPower

MM Earlene

6 replies
  1. Mariam dalisha
    Mariam dalisha says:

    Ah sedih ce bacanya.. karena ak benar2 merasakan hal yang sama persis..
    Malu banget rasanya klo udh kambuh gatelnya di dpn orang2.. rasanya pengen di garuk pake sisir atau anduk yg kasar.. ga peduli ampe berdarah2 krna itu bner2 gatel..
    Ak malah ngalamin ini semenjak bayi ce.. ga boleh smbarangan pake produk, ga kebayang betapa repotnya ortu ngurus ak dgn biaya ekstra karena lotion khusus org kaya kita ini emang hrganya diatas lotion n skincare pada umumnya..
    Ak sampe ga bisa ke tmpat yg lagi musim dingin, krna itu bner2 memperparah keadaan .
    Kalo lagi gatel dan di garuk, bulir2nya pecah dan berdarah . Dan besok nya jadi bau2 luka. Sedih bgt hilang percaya diri.
    Semoga sehat selalu yaaa ce, semoga kita kuat ngadepin penyakit yg selamanya akan ada di tubuh kita ini. Walau ga bisa sembuh, seenggaknya bisa mereda lah.. 🙁 thx ya ce udh posting cerita nya.. seenggaknya ak merasa punya tmen senasib, krna suka sedih klo liat org sekitar jijik sma keadaan ak.. pdhal ga bkalan nular ya 🙁

    Reply
  2. Cewek Pokokna
    Cewek Pokokna says:

    hai Earlene, aku juga pernah ngerasain itu. aku penderita darah manis karena keturunan. aku ngalamin itu selama bertahun-tahun sampai sekarang (19 tahun). waktu SD sering diejek korengan lah, kurap lah bahkan di intimidasi. pernah aku dijatuhin kursi plastik krn aku paling jelek di kelas kata mereka. buat aku nggak pede dan nggak bisa natap mata orang. selalu berpikiran semua orang memperhatikan kulit dan kejelekanku. beruntungnya di SMA ada banyak ketemu orang baik. percaya diriku pun tumbuh wlw masih nggak bisa natap mata orang. sekarang aku lagi berusaha ngilangin bekas hitam yang banyak banget ini dengan skincare. sudah mulai berkurang walau belum signifikan

    Reply
  3. Upimas dwi kristiari
    Upimas dwi kristiari says:

    Haii..aku juga ngalamin Hal yang sama kaya Kamu. Uda ke dokter dan kambuh lagi terus2an kaya gitu..sampe bingung mau gimana lagi..dan saat ini aku lagi bingung sama main fingerprint Di kantor. Soalnya ak ud nyoba gabisa kebaca Terus sidik jari ku..

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *